Kamis, 24 Februari 2011

Antara GAMAIS ITB dan FSLDK



Antara GAMAIS ITB dan FSLDK

Latar belakang

• LDK adalah Lembaga Dakwah Kampus, sebuah organisasi mahasiswa yang berdiri secara legal formal di dalam kampus, baik dalam bentuk UKM/DKM/kerohanian, yang melakukan fungsinya sebagai organisasi dakwah
• FSLDK adalah Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus, sebuah forum/lembaga/badan yang menaungi LDK-LDK se-Indonesia dalam fungsi-fungsinya seperti akselerasi, ekspansi, dan sinergisasi dakwah kampus.
• GAMAIS ITB adalah Lembaga Dakwah Kampus yang berada di Institut Teknologi Bandung, Perguruan Tinggi yang terletak di wilayah Jawa Barat, daerah Bandung Raya, sektor Bandung Tengah.

Tentang FSLDK

SEKILAS FSLDK
FSLDK kependekan dari Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus. Berbicara mengenai definisi FSLDK, kita akan mendapati dua persepsi berbeda. Persepsi pertama, kita memahami FSLDK sebagai jaringan. Sedangkan persepsi kedua, FSLDK adalah musyawarah nasional/daerah yang diadakan secara rutin. Sebenarnya, subjek dan objek kedua pengertian tadi sama, yaitu LDK. Akan tetapi perlu dipertegas lagi perbedaannya untuk mencegah ambiguitas.

Persepsi pertama, FSLDK adalah jaringan yang beranggotakan LDK-LDK (bukan orang per orang) se-Indonesia. Sifat keanggotaan FSLDK cukup terbuka, artinya setiap LDK berhak bergabung dengan FSLDK. Hal ini dikarenakan salah satu visi FSLDK adalah mengoptimalkan akselerasi da’wah kampus nasional. Jaringan FSLDK sudah tersebar luas di seluruh nusantara. Mulai dari ujung Sumatra hingga Papua.

Hingga saat ini agenda FSLDK semakin beragam, seperti pendampingan LDK, training manajemen LDK, Simposium Internasional Palestina, penyikapan isu bencana, dan sebagainya. Jika dirangkum, program FSLDK secara garis besar ada tiga yaitu ke-LDK-an, penyikapan isu, dan kemuslimahan. Salah satu contoh program ke-LDK-an adalah pendampingan LDK. Kegiatan lain yang pernah dilakukan adalah penyikapan isu seperti RUU APP dan Palestina.

Persepsi kedua, FSLDK adalah musyawarah akbar. Di tingkat nasional, kita mengenal istilah Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus Nasional (FSLDKN). FSLDKN yang ke-14 diselenggarakan di Unila, Lampung pada pada tahun 2007. Sedangkan di tingkat daerah, ada juga istilah Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus Daerah (FSLDKD).


SEJARAH SINGKAT FSLDK

Awal Berdiri
Cikal bakal lahirnya FS adalah acara yang bernama Saresehan LDK yang diadakan pada tangga 14-15 Ramadhan 1406 atau 24 – 25 Mei 1986 bertempat di UGM, Yogyakarta. Pertemuan itu diikuti oleh 26 peserta utusan 13 kampus se-Jawa, yakni UGM Yogyakarta, IKIP Yogyakarta, Universitas Diponegoro Semarang, Unsoed Purwokerto, UNS Solo, Universitas Trisakti Jakarta, Universitas Indoneisa, IPB Bogor, UIKA Bogor, ITB Bandung, dan beberapa kampus lain.

Peserta pertemuan ini menetapkan adanya pembagian wilayah menjadi tiga, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Masing-masing wilayah dikoordinatori oleh Salman ITB, Jama’ah Shalahuddin UGM, dan UKKI Unair.

Perkembangan FSLDK
Pasca diadakannya pertemuan itu, segenap peserta menyepakati tentang perlunya membina jaringan dan ukhuwah antar-LDK. Sehingga muncullah agenda-agenda susulan sebagai follow up-nya. Agenda-agenda tersebut adalah:
1. Saresehan LDK kedua
Tanggal : 2-4 Januari 1987
Tuan rumah : Salman ITB
Hasil :
- Salman ITB sebagai koordinator pusat LDK se-Jawa
- Diadakan Daurah Dirasah Islamiyah di IPB, Latihan Mujahid Da’wah di Salman ITB
- Diterbitkannya lembar komunikasi antar-LDK
2. FSLDK III
Tanggal : 13-16 September 1987
Tuan rumah : UKKI Unair Surabaya
Peserta : 30 LDK
Hasil
- Istilah Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) pertema kali digunakan
- Penetapan logo FSLDK
- Penetapan standar internal LDK dan persamaan langkah LDK
3. FSLDK IV
Tanggal : 3-6 September 1988
Tuan rumah : UNS Surakarta
Peserta : hadir peninjau dari Unud Denpasar dan Unhas Ujungpandang
Hasil
- Ide khittah LDK
- Penetapan pola komunikasi (Puskompus, Puskomwil, tuan rumah, dan koordinator mantan pusat)
- Perumusan rancangan oleh tim khusus (selesai Desember 1988)
4. FSLDKN V
Tanggal : 15-19 September 1989
Tuan rumah : IKIP Malang
Peserta : hadir utusan dari Sumatra, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Bali
Hasil dari forum ini adalah kesepakatan terhadap rumusan khittah LDK yang disusun oleh tim khusus
5. FSLDKN VI
diselenggarakan pada bulan Oktober 1990 di IKOPIN Jatinangor. Hasil yang diperoleh dari pertemuan ini adalah mengalihkan Puskompus dari ITB ke IKIP Malang dan penetapan dan UNHAS sebagai tuan rumah FS selanjutnya.
6. FSLDKN VII
Pertemuan FSLDKN VII diselenggarakan pada bulan Desember 1991 di Universitas Hasanudin Makassar.
Selain itu, dihasilkan pembagian wilayah komunikasi FSLDK :
- Wilayah I mencakup Sumatera, DKI Jakarta dan Jawa Barat.
- Wilayah II mencakup Jawa Tengah, DIY dan Kalimantan.
- Wilayah III mencakup Jawa Timur, Bali, NTB dan NTT
- Wilayah IV mencakup Sulawesi, Irian, Maluku dan Timor Timur.
7. FSLDKN VIII
Pertemuan FSLDKN VIII berlangsung pada tanggal 6-11 September 1993. Pertemuan ini diadakan di kota Semarang. Sebagai tuan rumah adalah BAI Universitas Diponegoro.
8. FSLDKN IX
Waktu : tahun 1995
Tuan rumah : Unisba Bandung
Penyeragaman khittah yang telah ditetapkan ternyata memunculkan perbedaan pendapat. Adanya khittah tersebut dinilai tidak sesuai dengan kenyataan bahwa kondisi tiap LDK berbeda. Bahkan terkadang perbedaannya cukup jauh. Perbedaan pendapat ini pun mencapai klimaksnya tepat pada FSLDKN IX ini, sehingga peserta forum menyepakati penghapusan khittah LDK. Penghapusan khittah ini dikenal dengan nama Piagam Unisba.
Sehingga dengan adanya piagam tersebut, praktis FSLDK hanya bersifat koordinasi. Dan telah disadari, kondisi dan karakteristik LDK yang beragam ini tidak mungkin diseragamkan. Maka jadilah agenda-agenda FSLDK sekarang hanya berupa rekomendasi tanpa paksaan dengan berlandaskan semangat beramal secara berjama’ah (amal jama’i).
9. FSLDKN X
Tanggal : 25-29 Maret 1998
Tuan rumah :Universitas Muhammadiyah Malang
Hasil
- Menetapkan Gamais ITB sebagai Puskomnas
- Menetapkan UI Jakarta sebagai tuan rumah FS-Nas XI
- Mendeklarasikan berdirinya KAMMI sebagai sayap siyasi da’wah kampus
10. FSLDKN XI
Tanggal : 20-24 Juli 2000
Tuan rumah : Universitas Indonesia Depok
Poin penting
- Terjadi lonjakan peserta dibanding FS-Nas sebelumnya, yaitu sekitar 600 LDK
- Bahasan tentang jaringan muslimah (jarmus) mulai digulirkan
- Menetapkan JMMI ITS sebagai Puskomnas dan FKI Rabbani Unand sebagai OC FS-Nas XII
11. FSLDKN XII
Tanggal : 25-29 Juli 2002
Tuan rumah : Universitas Andalas Padang
Hasil
- Pembentukan Pusat Kajian Syariat Islam Mahasiswa (PKSIM) sebagai wadah untuk mempersiapkan keberterimaan masyarakat terhadap penerapan syariat Islam
- Pembentukan Jaringan Mahasiswa Anti Pemurtadan (Jamaat) untuk meng-counter aksi pemurtadan di kampus
12. FSLDKN XIII
Tanggal : 19-25 Juli 2005
Tuan rumah : Universitas Mulawarman Samarinda
Hasil
- Merekomendasikan pembentukan Jamaad dan PKSIM di daerah
- Wacana tentang Dakwah Kampus Berbasis Kompetensi (DKBK)
- Penggunaan buku SPMN (Standardisasi Pelatihan Manajerial Nasional) sebagai salah satu acuan dalam pendampingan LDK
13. FSLDKN XIV
Tanggal : Juli-Agustus 2007
Tuan rumah : Universitas Lampung, Bandar Lampung
Hasil
- Draft 3 komisi : Komisi A Isu Keumatan, Komisi B ke-LDK-an, komisi C Jaringan Muslimah
- Perluasan gerak dakwah LDK Indonesia Timur
- Revitalisasi permentoringan nasional

14. FSLDKN XV
Tanggal : 1-5 Juli 2010
Tuan rumah : Universitas Pattimura, Ambon
Hasil
-

Kamis, 17 Februari 2011

My name is Adam

Perkenalkan saya Adam Habibie. Saya lahir di tanah para wali, tanah Cirebon. Saya asli dari cirebon, tepatnya desa Arjawinangun, kabupaten Cirebon. Saya berasal dari keluarga besar baik di pihak ibu maupun Ayah. Anggota keluarga kami berjumlah 11 orang. Saya memiliki 7 kakak dan 1 adik.

Sejak kecil saya sudah ditanamkan sikap mandiri oleh orang tua saya. Ayah (59 tahun) saya yang sehari-hari bekerja sebagai penjahit rumahan mempunyai karakter yang disiplin dan tegas. Ibu (57 tahun) saya yang merupakan pedagang sayur rumahan memiliki jiwa yang sangat halus, penuh pertimbangan, dan mempunyai ribuan teladan tentang kebijaksanaan. Keduanya bagi saya adalah segalanya. Mereka mengajarkan saya tentang kerasnya hidup dan bagaimana menjadi pemenang dalam hidup ini.

Sejak menginjakan kaki di SD hingga kuliah saya selalu masuk kelas unggulan. Di SD selama 6 tahun saya duduk di kelas unggulan dan lulus dengan predikat juara sekolah. Di SMP saya pun 2 tahun masuk di kelas unggulan yang mayoritas anak-anak olimpiade dan jawara di SD-nya. Tahun ketiga di SMP karena tidak ada sistem kelas unggulan, saya pun masuk kelas pada umumnya. Kemudian, saya berhasil mewujudkan salah satu cita-cita yaitu masuk SMAN 2 Cirebon, salah satu SMA terfavorit di Jawa Barat (masuk nominasi 100 besar SMA terbaik di Indonesia alias masuk nominasi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional). Dan Saat ini saya kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) terbaik Indonesia, Institut Teknologi Bandung di jurusan Teknik Geologi.

Selain prestasi secara akademik di atas, saya pun aktif di kegiatan ekstrakurikuler. SD saya aktif di PRAMUKA dan berhasil menyabet juara 1 jambore, Di SMP saya sangat aktif di sepakbola sekolah dan berhasil membawa SMP saya menjadi juara 2 kompetisi sepakbola tingkat kabupaten. Di SMA saya aktif di Kerohanian Islam (ROHIS) SMA sebagai ketua umum. Dan, di ITB saya aktif di Kabinet keluarga Mahasiswa (KM) ITB di kementrian ekonomi. Kemudian saya juga aktif di Klub Entepreneur Salman ITB, Rumah Visi Salman ITB,dan yang terakhir di Keluarga Mahasiswa Islam (GAMAIS) ITB sebagai Ketua 2009. Selain itu saya dipercaya menjadi ketua alumni Ikatan Keluarga Alumni SMP periode 2007-2010 dan terakhir menjadi ketua ikatan alumni ROHIS SMA periode 2010-2011.

Saya berasal dari keluarga yang tidak mampu secara ekonomi. Ayah hanya penjahit yang masih bertahan sejak 40 tahun yang lalu. Ibu dahulu penjual kain di pasar, namun kini hanya bisa berjualan sayur di rumah dikarenakan sudah senja. Ayah saya lulusan SMP dan Ibu belum sempat menamatkan SD-nya. Tapi, dengan segala keterbatasan mereka, mereka berdua adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan hebat dalam mendidik anak untuk bisa berprestasi dan berakhlak baik. Terbukti, enam dari sembilan anggota keluarga kami sudah berhasil lulus kuliahnya. Ada yang satu D3 dan sisanya S1. Impian saya, saya ingin menuliskannya menjadi bukuberjudul “Kisah 9 sarjana” .

Saya mempunyai cita-cita menjadi seorang sosioentrepreneur. Seorang yang concern di bidang wirausaha namun berjiwa social yang sangat tinggi. Karena menurut saya pada hakikatnya hidup itu saling berbagi dan bersinergi. Saat ini saya akan sedikit demi sedikit berjuang mewujudkan cita-cita saya.. Beberapa usaha pun sedang saya rintis. Juga, saya saat ini sedang merintis penelitian kecil di daerah asal saya, Cirebon. Sebuah penelitian tentang permasalahan,potensi SDM dan kewirausahaan di sana. Ini menarik karena sedikit orang yang mau berjuang memanjukan daerahnya. Inilah bukti bahwa kepemimpinan dalam hal ini kesuksesan kita sejatinya adalah pengabdian kepada masyarakat.

sumber :
http://muda.kompasiana.com/2011/01/04/my-name-is-adam/

ORIENTASI PENDIDIKAN DI INDONESIA HARUS DIBENAHI

Saat ini bagi para pelajar SD hingga SMA sudah memasuki masa-masa liburan sekolah. Bahkan, beberapa sudah memasuki semester baru. Liburan adalh masa dimana para siswa selesai menjalani satu semester. Satu semester yang diakhiri dengan Ujian Akhir Semester (UAS).

Tatkala menghadapi UAS atau ujian lainnya, tentu semua siswa akan menyiapkan sesuatunya dengan sebaik-baiknya. Dari mulai pemahaman materi hingga ke hal yang bersifat teknis seperti peralatan yang dibutuhkan di kala ujian. Ini merupakan hal yang sudah menjadi rutinitas saat menjelang ujian.

Namun, ada hal yang miris ketika kita berbicara tentang ujian di bangku sekolah, khususnya di Indonesia. Seperti yang kita tahu, masih banyak angka kecurangan dalam setiap pelaksanaan ujian di Indonesia. Yang paling terlihat adalah di saat Ujian Nasional (UN). Selain banyak kecurangan yang dilakukan siswa dan pihak sekolah, angka ketidaklulusan pun masih relatif tinggi.

Pendidikan merupakan pilar tegaknya bangsa; Melalui pendidikanlah bangsa akan tegak mampu menjaga martabat. Dalam UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, disebutkan “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Bila mengacu pada fungsi pendidikan di atas, maka implementasi pendidikan di negeri ini masih sangat jauh dari predikat baik. Bisa kita lihat masih banyak siswa yang setiap harinya belajar hanya untuk mengejar nilai-nilai dari gurunya. Begitu pun dengan pihak sekolah termasuk guru, hamper sebagian besar hanya memikirkan bagaimana sekolahnya bias menjadi yang terbaik dalam hal prestasi nilai-nilai yang bersifat numeric saja. Sangat jarang stakeholder pendidikan yang memikirkan nilai-nilai lain seperti moral, etika dan spiritualitas siswa.

Dengan orientasi pendidikan yang terjadi saat ini di Indonesaia yang masih berkutat pada nilai-nilai yang berwujud numerik dan akademik saja. Sungguh sebenarnya hal ini telah bersikap munafik bagi tujuan pendidikan itu sendiri. Pendidikan yang sejatinya memiliki harapan agar bisa memtransformasi manusia dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari yang tidak mempunyai keterampilan menjadi punya keterampilan, dan seterusnya.

Fenomena ini harus kita ubah bersama-sama. Tak ada yang mustahil selama kita bersungguh-sungguh. Mari kita kembalikan konsep dan implementasi pendidikan di Indonesia sesuai tujuan dan fungsi yang sebagaimana mestinya. Jangan sampai hal ini dibiarkan berlarut-larut yang pada dasarnya akan merusak citra dan kualitas bangsa ini ke depannya. Semua harus berperan untuk menyelesaikan masalah ini. Dari mulai pemerintah yang membuat konsep dan kurikulum pendidikan yang baik, pihak sekolah yang mengejewantahkan konsep pemerintah sesuai fungsinya, hingga siswa yang senantiasa memperbaiki orientasinya tentang pendidikan dan sikapnya terkait pelaksanaannya. Dengan sinergi semua elemen, sangat mungkin pendidikan di Indonesia akan menjadi teladan bagi dunia. (Adam)

sumber :
http://birokrasi.kompasiana.com/2011/01/04/orientasi-pendidikan-di-indonesia-harus-dibenahi/